Wednesday, March 26, 2008

Ayat-Ayat Cinta ... Refleksi

Ayat Ayat Cinta – Refleksi Diri

Salaam,

Saya baru selsai membaca Novel Ayat Ayat Cinta, ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy, atau yang akrab disapa dengan panggilan Kang Abik ini.

Akhir February lalu, cerita dalam novel ini ditranslasikan ke film layar lebar. Ini menjadi diskusi hangat komunitas Indonesia terlihat dari banyaknya blog-review-artikel bertebaran di dunia Maya. Tidak hanya di Tanah Air, tapi juga di Mancanegara.

Karena film ini baru saja launching di Indonesia, maka otomatis, filmnya tidak (atau belum) secara resmi ditayangkan di Melbourne. Saya “berperang keras” untuk menolak godaan menonton DVD-DVD bajakan yang sudah tersebar diantara rekan-rekan saya disini maupun via situs Youtube. Ini memaksa saya mencari alternative lain untuk mencari informasi tentang cerita Ayat-Ayat Cinta.

Alhamdulillah, seorang rekan saya dengan senang hati meminjamkan buku ini.

Novel Ayat Ayat Cinta sarat dengan da'wah Islamiyah, namun tetap terbungkus dengan (sangat) apik dalam alur cerita yang indah dan menyentuh hati. Pembaca pun diajak untuk mengenal Karakter Utama bernama Fahri, dan terjun di dalam dunianya di Cairo.

Saya tidak akan melakukan 'book review' Novel ini, tapi saya hanya ingin sekedar berbagi kesan ketika saya terjun dalam dunia Ayat Ayat Cinta.

Kesan pertama ketika saya membuka lembaran-lembaran awal, “whow ... this book is great! Engga nyangka penulis mengambil bermacam-macam referensi dari Quran, buku-buku Sunnah Nabi SAW, dan literatur-literatur Islam lainnya. Tapi cara penyampaian da’wahnya sangat halus, seiring dengan jalan cerita si Main Character. Nice”.
Sebetulnya begitu banyak hikmah yang bisa saya dapatkan di dalam setiap bab-bab Ayat Ayat Cinta. Dalam bab 3, misalnya, yang berjudul “Kejadian di Metro”, membahas perihal kewajiban kaum Muslimin untuk memberikan perlindungan sebaik-baiknya kepada ahlu-dzimmah – yaitu semua orang non-muslim yang berada di dalam negara kaum muslimin. Terhadap jiwa mereka, harta kekayaan mereka, dan hak-hak mereka.

Pada kali ini, saya sengaja “tinggalkan” pembahasan tersebut, dan memfokuskan kepada tema romantisme yang menjadi inti novel Ayat Ayat Cinta.

Bab 30 – Ayat Ayat Cinta
Ada satu percakapan antara Fahri dan Aisha –istrinya-, ketika Fahri dimasukkan ke dalam penjara karena difitnah melakukan perkosaan. Singkat kata, Aisha ingin membebaskan Fahri dengan menyuap beberapa karakter antagonis yang memasukkan Fahri ke dalam penjara.

Percakapannya sebagai berikut (pp. 361-362)

“Aisha isteriku, apakah engkau benar-benar mencintaiku?” tanyaku.
Aisha menganggukkan kepala.
“Aku juga sangat mencintaimu. Dan aku tak ingin kita sekarang ini saling mencintai kelak di akhirat menjadi orang yang saling membenci dan saling memusuhi”

“Apa maksudmu? Apakah ada dua orang yang di dunia saling mencintai di akhirat justru saling memusuhi?” tanyanya.

“Jika cinta keduanya tidak berlandaskan ketakwaan kepada Allah maka keduanya bisa saling bermusuhan kelak di akhirat. Apalagi jika cinta keduanya justu menyebabkan terjadinya perbuatan maksiat baik kecil maupun besar. …. Seseorang yang sangat mencintai kekasihnya sering melakukan apa saja demi kekasihnya. Terkadang juga tidak peduli pada pertimbangan dosa atau tidak dosa. Jika yang dilakukan adalah dosa tentu akan menyebabkan keduanya akan bermusuhan kelak di akhirat. … Inilah yang telah diperingatkan oleh Allah SWT dalam surat Az-Zuhruf ayat 67: Orang-orang yang akrab saling kasih mengasihi, pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa’

Isteriku, aku tak ingin kita yang sekarang ini saling menyayangi dan saling mencintai kelak di akhirat justru menjadi musuh dan seteru. Aku ingin kelak di akhirat kita tetap menjadi sepasang kekasih yang dimuliakan Allah SWT.

… Jika memang kematianku ada di tiang gantungan, itu bukan suatu hal yang harus ditakutkan. Beribu-ribu sebab, tapi kematian ada satu, yaitu kematian. Yang membedakan rasanya seseorang mereguk kematian adalah besarnya ridha Tuhan kepadanya. Isteriku, aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin kehilangan dirimu di dunia ini dan aku lebih tak ingin kehilangna dirimu di akhirat nanti.”

Dialog ini kemudian melayangkan kisah-kisah yang telah saya alami, maupun mendengarkan cerita orang-orang terdekat saya yang mengalami kejadian serupa. Ah, berapa banyak hal-hal yang telah kita lakukan, dikarenakan kita terlalu mencintai makluk-Nya dan dunia ini, sehingga melakukan maksiat terhadap sang Khaliq.

Karena terlalu cinta pada Dunia, maka hati tidak berusaha menjaga mata dan penglihatan.

Karena terlalu cinta pada Dunia, maka hati tidak berusaha menjaga lisan dan langkah kaki.

Karena jasad takut kekurangan uang untuk memberi makan dan pakaian untuk istri dan anak-anak, maka ayah pun menghalalkan segala cara, atau ‘berusaha’ sembunyi dibalik logika.

“Ah, bunga kartu kredit kecil, bisa lah dicicil dalam 1-2 tahun demi mendapatkan perabotan rumah”

“Boleh lah saya ambil project ini, sekali aja kok, biar bisa mendapatkan bonus uang tambahan”, meski dalam nurani terdalam proyek ini termasuk mendekati makruh.

“Engga apa-apa yah Ayah coba kerja di industry ini, gaji-nya hampir dua kali lipat apa yang Ayah dapat sekarang, k?”

Mudah-mudahan Allah memberikan Rahmah dan Maghfirah-Nya atas kealpaan hamba-Nya, dan memberi peringatan sebelum akhir hayat kita agar kita bertobat, dan mendapatkan Husnul Khatimah dengan seijin Allah SWT.

Sungguh, saya tidak ingin berseteru di Hari Akhir nanti dengan orang-orang yang saya cintai. Isteri, dan anak-anak. Apalagi Orang Tua saya sendiri.

Orang Tua? Uh, apa jadinya bila saya berseteru dengan orang tua saya sendiri? Hanya karena mereka banting tulang berusaha menyekolahkan kami dan berusaha keras memberikan makanan, pakaian dan rumah yang layak untuk anak-anak mereka? Berbelas –bahkan puluhan- tahun memeras keringat demi keluarganya, yang seringkali ‘memaksa’ mereka mengorbankan segalanya. Kehidupan Akhirat sekalipun. Astaghfirullah. Semoga Allah mengampuni mereka, dan memasukkan mereka ke Jannatul FirdausNya. Amin.

Refleksi Karakter dalam Novel Ayat Ayat Cinta
Ketika membaca bab-bab awal novel ini, saya seringkali ‘bingung’ dengan karakter ini, seakan-akan terlalu ‘sempurna’ sifat-sifatnya. Meskipun Kang Abik mengatakan bahwa banyak ‘Fahri-Fahri’ di Cairo sana. Tapi, sudahlah. Saya tidak ingin mempersoalkan standard karakter yang dituliskan Kang Abik.

Pelajaran bagi saya, ketika membaca kehidupan Fahri sebelum-proses-dan-sesudah menikah adalah, begitu banyak ilmu-ilmu yang belum saya pahami. Apakah itu ilmu menjadi seorang suami yang shaleh, yang bisa membahagiakan isteri. Apakah itu ilmu mendidik istri dan anak-anak, untuk bersama-sama melangkahkan kaki ke pintu Surga Firdaus-Nya. Ilmu Fiqih dan Aqidah. Bahkan hafalan Surat Al-Quran sekalipun, padahal inilah Ayat-Ayat Cinta yang sesungguhnya dilayangkan dari Sang Khaliq kepada makhlukNya melalui hamba Allah yang terbaik, Rasulullah SAW.

Inilah yang kemudian mengetuk pintu hati saya untuk terus belajar dan terus berusaha agar menjadi suami dan ayah yang shaleh, yang terbaik untuk keluarga saya. Yang bisa menuntun dan mengajak keluarga mencapai ridha Allah, menggapai Rahmat dan MaghfirahNya kelak.

Bab 24 – Surat Dari Nurul
Di dalam Ayat Ayat Cinta, ada seorang karakter perempuan bernama Nurul, yang menyimpan perasaan sayang dan kasihnya kepada Fahri. Ia menuliskan surat kepada Fahri, menyampaikan rasa cintanya, ketika mendengar berita Fahri telah menikah dengan Aisha.
Fahri kemudian menuliskan surat balasan untuk Nurul.

Salah satu isinya sebagai berikut:
“Nurul … cinta sejati dua insan berbeda jenis adalah cinta yang terjalin setelah akad nikah. Yaitu cinta kida pada psangan hidup kita yang sah. Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan. Nurul, dunia tidak selebar daun anggur. Masih ada jutaan orang saleh di dunia ini yang belum menikah. Pilihlan salah satu, menikahlah dengan dia dan kau akan mendapatkan cinta yang lebih indah dari yang pernah kau rasakan”

Ah, betul-betul nasihat yang menusuk hati. Betul-betul ini menjadi peringatan untuk diri sendiri terdahulu, sebelum menjadikan nasihat bagi saudaraku sekalian.
Wahai hati, jangan engkau terpaut dengan masa lalu. Karena sekarang kita sudah memasuki lembaran baru. Jangan samakan ini dengan mengendarai kendaraan bermotor, yang mengharuskan kita memperhatikan apa yang ada dibelakang kita. Untuk hal yang ini, lupakanlah wahai hatiku. Sesungguhnya bila engkau kerap kali hidup di masa lalu, engkau akan lupa untuk merajut masa depan yang lebih baik bersama sahabat hidup-mati mu, yang mempunyai hak yang sah atas mu.

Terima kasih isteriku, karena engkaulah jawaban atas do’a ku dari Ilahi Rabbi. Bukan dia. Bukan dia. Dan juga bukan dia.

Terima kasih atas kesabaran dan pengertian yang tercurahkan. Maafkan hati bila telah menyakiti. Dan aku berterima kasih kepada Ilahi Rabbi, karena telah memberikan hambaNya yang dhaif ini, seorang istri yang shalehah seperti engkau. Mudah-mudahan Allah memberikan aku kekuatan Iman, kesabaran, cahaya hidayah, agar pintu-pintu hati bisa terjaga dengan baik.


Di dalam diskusi yang saya baca di Dunia Maya, banyak poin yang terangkat tentang perbedaan detail film Ayat Ayat Cinta vs Novel aslinya. Saya pribadi kurang bisa berbicara tentang filmnya? Tapi, jika saya melihat kilas balik film-film sekelas Harry Potter dan Lord Of The Rings pun tidak bisa mendekati detail tulisan Novel aslinya.

Dalam konteks Ayat Ayat Cinta, terlepas dari niat awal si Sutrada dan Penulis – apakah untuk berda’wah maupun komersil - tapi bentuk Film dan Novel menjadi media da’wah yang berbeda, dan juga mencakup target market yang berbeda.

Namun keberadaan Film Ayat Ayat Cinta, di industry perfilman Indonesia, menjadi satu benchmark baru. Yang saya harap bisa memicu sutradara lainnya untuk menghasilkan karya yang berkualitas dari segi Sinematografi dan Teknis pembuatan filmnya, dan yang lebih penting berkualitas dalam Isi dan Tema film yang dibuat.

Saya rasa cukup sampai disini. Karena istri dan saya sedang menunggu menit-menit kelahiran buah hati kecil kami.

Jika nanti ada waktu lagi, insha Allah saya akan teruskan tulisan ini. Karena masih begitu banyak hikmah yang saya dapat gali lebih jauh setelah membaca Novel Ayat Ayat Cinta.

Wassalaam.
M. Sidqie R. Djunaedi (sidqie.blogspot.com)
Rahma Ranie Kasmir
Safa Raihana Aleesha Djunaedi (Yang Menunggu Kehadirannya di Dunia).

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home