Tuesday, July 15, 2008

Dual Language? Or Choose One?

Melbourne, July 16 2008
12:12PM

Kita disarankan oleh nurses disini, dan juga baca2 online, kalau kita sebagai orang tua yang mempunyai "dual language" di masyarakat, untuk berbicara dengan bayi kita dengan primary language, i.e. bahasa indonesia. Agar perkembangan bahasa si bayi lebih baik dan sempurna.
Pemakaian dual-language di dalam rumah, tidak disarankan. Bayi akan belajar bahasa kedua (i.e. inggris) dalam berinteraksi dengan dunia luar (e.g. child care, interakhir di toko, tram and so on).

Kalau pasangan suami istri dari beda negara (misalnya, ibu Indonesia, bapak non-indonesia), jadi percakapan antara keduanya itu dalam bhs inggris, maka, bahasa yang digunakan adalah bahasa inggris / bahasa percakapan sehari-hari.


Saya menuliskan pengalaman kami sebagai orang tua, dengan Shaafazka di dalam blog ini (ataupun lainnya), dengan harapan ia akan membacanya suatu saat. Terus terang, ada kekhawatiran sedikit, apakah suatu saat nanti ia bisa mengerti cerita kami ini dalam tulisan bahasa ini? Mudah-mudahan saja, ia akan mengerti.

Ranie dan saya menolak berbicara bahasa inggris di rumah dengan Shaafazka. Kami ingin agar ia mempunyai "ghirah" karena ia bisa berbicara dalam dua bahasa (atau lebih).

Interaksi saya dengan rekan-rekan sekolah / kuliah / pekerjaan, contohnya dengan orang Middle East (Lebanon, Arab, Turkish), Greece, Italian, Chineese, dan lainnya yang lahir disini, mereka bisa berbicara dengan lancar bahasa ibu mereka (well, at least, kedengarannya sebagai orang awam bahasa mereka, saya rasa percakapan mereka tidak terbata-bata).

Tapi, interaksi saya dengan rekan-rekan indonesia yang lahir disini, on average, ada kesulitan tersendiri untuk berbahasa, meskipun orang tuanya asli Indonesia.
Seringkali saya mendapatkan balasan percakapan dalam bahasa Inggris. Saya tidak keberatan, karena untuk saya ini jadi ajang latihan bahasa Inggris. Meski, pertanyaan diatas selalu ada: kenapa kawan saya yang lain chinese, turkish, whatever, seringkali ngobrol satu sama lain dengan bahasa Ibu mereka lancar-lancar aja?

Memang sampai saat, saya pun lebih nyaman menulis (formal) dalam bahasa Inggris (karena sudah tidak terbiasa menulis essay atau report dalam bahasa Indonesia). Tapi saya ingin, agar anak-(anak) saya bisa lancar berbicara (dan menulis) dalam bahasa Indonesia. Dan bangga bisa menguasai Bahasa Ibu sendiri.

Hmmm ... coba saya bisa lancar bahasa Sunda dalam tulisan dan lisan.

Wallahu alaam.

Ps:
-. Indri, gw jadi keinget sama satu percakapan gw dengan Ranie kemarin-kemarin ini, kenapa di Westall engga dicoba ada kelas bahasa indonesia ya? Untuk anak-anak dan teenagers nya?
-. Ocen, jadi inget pas gw diminta jadi public speaker pas acara Sumpah Pemuda, waktu masih SMA / Kuliah dulu ... hauhauh ... gw nginep di tempat lo sibuk translate inggris ke indo.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home